April 28, 2012

You don't have to fight all of my fights.

You were taking a deep breath before you've planned to stop by here, to read. 30 minutes earlier you were hiding up things in your pocket, pretending those things have no kind of scent I could smell.
You took the chair so I could have a rest while I was coping with my blood sugar drops, gave me that super sweet candies so I could raise the drops up.
You are the only person that could see me dying for food because my meal time is so unpredictable. Once I feel starving means I'm gonna die straight away.
You will turn on the music I like when things went bored around me, well, you know all of my favorites, don't you?

What I'm trying to tell was, have you ever heard a story about a big tree that could grow itself? And have you ever realized about the damn pretty good purposes of why God put these eyes, hands, brains and the rest well-ordered?
What would be your answer sounds like?
And then for twice or even more you keep trying to make me act like a reckless person. Well, thanks for all those creepy helps but you don't have to.
You don't have to fight all of my fights.



(the illustration can't be provided)

October 31, 2011

Akuarium Manusia

Pada suatu ketika saya mengunjungi sebuah akuarium manusia, memperhatikan tingkah laku mereka;

| berjalan | tertawa | melamun | berpikir | kosong | memberi | menerima | berdiri | menatap | melupakan | melihat | menuju | melangkah | berbicara | mencari | berlari | berirama | berujar |









illustration by frahgelina

September 6, 2011

Pukul 12 Sampai Kepada 4 Ante Meridiem.

Malam kembali datang, tak perduli panas ataupun dingin ia tetap datang menyerang. "Pukul 12 Sampai Kepada 4 Ante Meridiem, dimulai." kataku.





illustrations by frahgelina

Jadi, inilah pukul 12 sampai kepada 4 Ante Meridiem ku. Dimana waktu terasa begitu lambat, begitu tenang.
Bagaimana denganmu?


[Didedikasikan bagi mereka yang mengidap kepribadian melankolis sempurna; malam adalah musuh mereka, namun malam pula lah yang menghantar mereka untuk mengimajikan segala, pikiran-pikiran-malam-hari-mereka]

Cheers.

August 31, 2011

Aku, Si Penurut Yang Tolol

Tuanku dulu pernah berjalan diatas air; Ia berjalan ketengah lautan ribut, membuat tenang ombak yg beriak-riak supaya kapal hambaNya tidak tenggelam.
Aku, si penurut yang tolol, ingin meniru Tuanku, tapi aku tau takkan pernah bisa.
Meskipun hanya untuk bisa berjalan diatas tepi air pun aku tak bisa.
Melihat usahaku yg sia-sia, lalu Tuanku pun berkata, menghiburku;

"Berimajinasilah layaknya kamu sedang berjalan diatas air."


illustration by frahgelina

August 27, 2011

There must be a light at the end of the darkness.


illustration by frahgelina

July 13, 2011

Epilog Saat Tertidur

Dan lagi kali ini kembali datang, mereka kembali datang membawa nestapa.
Tidak lagi...
Buka mata, lihat; pemandangan disini masih sama, masih penuh dengan kamuflase hingga aku tak bisa membedakan mana langit mana laut.
Diseberang sana pun masih sama, masih banyak titik hitam tak beraturan, hingar dan bingar.
Kembali berjalan, lurus, jangan hiraukan apapun yg ada disekeliling, kataku kepada mata dan kakiku.
Kita hampir sampai, dan lihat! Keretaku sudah datang.
Mari pulang, lagipula aku sudah tak bisa menghitung berapa malam aku tak tertidur, tak bermimpi.
Cepat masuk kedalam kereta, karena malam yg kutakuti kembali datang.


illustration by frahgelina

...dan sekarang, selamat malam, tidur nyenyak, pilih satu dari semua mimpimu, Selamat tidur!




p.s. semoga aku tidak lupa bagaimana caranya untuk bangun dari tidur :)

July 10, 2011

Siapa Bilang Kami Tidak Ada?

Tidak semua orang menyadari bahwa ada kehidupan, disana, dibawah jembatan yg mereka lalui.

Sekitaran minggu-minggu lalu, saya dan 2 orang teman berkunjung kesuatu lokasi yg seharusnya tdk berpenghuni. Tepatnya di kolong jembatan MT. Haryono, Cawang. Ini kedua kalinya saya mengunjungi tempat ini


Cukup banyak yg berubah, dulu dilokasi ini tidak terlalu begitu banyak rumah-rumah kayu. Dulu tak banyak anak-anak kecil bermain. Tapi sekarang lokasi ini berbeda. Seperti layaknya perumahan biasa. Salah satu ibu, penghuni kolong jembatan ini berkata listrik yg mereka pakai bukanlah curian namun mereka membayar perbulannya kepada seorang oknum.


-Kami (Fahmi & Uki), diteras rumah-

Memasuki gang kecil lurus sekitar 10 meter, dingin, dan pengap. Karena cahaya matahari tak dapat menembus kokohnya jembatan-jembatan ini. Lampu-lampu 5 watt seperti menjadi lampu jalan menerangi langkah siapa pun yg melewati jalan tsb.

Keseharian mereka terus dihinggapi rasa takut dan terancam, karena menempati kawasan yg ilegal. Bagaimana jika tiba-tiba ada segerombolan petugas keamanan? Bagaimana kalau mereka diusir? Bagaimana caranya meninggalkan gubuk yg sudah mereka tempati selama bertahun-tahun?

-Sama-Sama Cari Makan, Saling Jaga Biar Aman-


-Bermain itu bisa dimana saja, bro-


-PramuKAwan cilik-

"Dimanapun kami tinggal, asa itu tetap ada. Tidak ada lagi yang bisa kami percaya selain Tuhan Sang Maha Kuasa..."
Mungkin inilah gumam yang ada dalam diri mereka, seraya terus berjalan.





Lalu? Kembali bermain dan tetap ceria! :))


Banyak cerita dgn kedatangan saya dan teman-teman yg hanya sekitar 2 jam. Banyak canda dgn para bocah penghuni kolong jembatan, banyak tatapan 'risih', banyak lelucon khas anak kecil, dan juga banyak harap.

Dan pada akhirnya, jelas sekali bahwa masih banyak orang lain yang tidak lebih beruntung dari kita. Syukuri apa yg telah kita miliki sekarang.
Cheers.